Berpidato dengan Menarik
Jika Anda dapat menyampaikan pidato dengan menarik, tentu para pendengar akan merasa senang dan tidak akan bosan. Sebenarnya bekal utama bagi Anda agar dapat berpidato dengan menarik adalah benar-benar menguasai topik atau masalah yang akan disampaikan. Dengan begitu,Anda pun dapat menyampaikan pidato sesuai dengan tujuan yang Anda inginkan. Apakah Anda bertujuan untuk menghibur, mempengaruhi, ataukah bertujuan untuk memberitahukan sesuatu kepada pendengar. Pada saat berpidato Anda dapat membawa teks atau tanpa teks. Namun, pada kesempatan ini Anda akan berlatih pidato tanpa teks. Bagaimanakah caranya? Berpidato tanpa teks dapat Anda lakukan dengan menggunakan beberapa cara berpidato berikut.
1. Menghafal
Sebelum berpidato, Anda dapat menyusun naskah terlebih dahulu. Kemudian, menghafalkannya.
2. Ekstemporan
Sebelum berpidato, terlebih dahulu Anda dapat menyiapkan catatan berupa garis-garis besar masalah yang akan dipidatokan. Pada saat berpidato garis-garis besar masalah tersebut dapat Anda kembangkan secara lisan dengan bahasa yang menarik dan sesuai dengan tujuannya.
3. Impromtu
Pembawa pidato menyampaikan pidatonya dengan serta merta atau spontan, tanpa persiapan terlebih dahulu. Naskah pidato harus terdiri atas tiga bagian, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup pidato. Bagian pendahuluan dapat berisi tujuan pidato itu disampaikan. Isi pidato berisi gagasan pokok yang akan disampaikan. Bagian penutup pidato dapat berisi rangkuman, pernyataan ulang tujuan khusus, atau berupa seruan untuk membangkitkan semangat atau ringkasan bagian yang penting. Selanjutnya, seorang pembawa pidato harus menggunakan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang tepat dalam menyampaikan pidatonya. Dengan begitu, pidato yang disampaikan akan lebih menarik. Parapendengar pun dapat menangkap maksud dan informasi yang disampaikan secara utuh
Selain memperhatikan penggunaan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang tepat seorang pembawa pidato juga harus memperhatikan hal-hal di bawah ini.
1. Penampilan
Ketika seseorang berpidato, orang tersebut menjadi pusat perhatian pendengar pidato. Oleh karena itu, ia harus memperhatikan penampilan. Selain penampilan fisik dan cara berpakaian yang sopan, ia harus tenang dan simpatik.
2. Ekspresi dan Gerakan
Untuk mendukung penampilan, ekspresi dan gerakan harus diperhatikan oleh pembawa pidato. Ekspresi ketika berpidato harusbersahabat, misalnya berusaha menghilangkan ekspresi tegang atau cemberut. Selain itu, gerakan-gerakan perlu dilakukan saat berpidato untuk mendukung penyampaian masalah atau tujuan pidato. Akan tetapi, gerakan-gerakan tersebut dilakukan seperlunya saja. Jangan dilakukan secara berlebihan agar tidak mengganggu dalam berpidato
Selasa, 23 Februari 2016
Berikan contoh latar penggalan drama?
Bagimu, kemerdekaan bumi pusaka.
Drama ini terjadi pada tanggal 19 Januari 1949, sebulan sesudah Tentara Kolonial Belanda melancarkan aksinya yang kedua dengan merebut ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta. Tentara kolonial telah pula siap siaga untuk melancarkan serangan kilat hendak merebut sebuah kota strategis yang hanya dipertahankan oleh satu batalion Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di kota itulah si Bapak dikagetkan oleh kedatangan putra sulungnya yangmendadak muncul setelah bertahun-tahun merantau tanpa kabar berita. Si Sulung kembali pulang dengan membawa sebuah usul yang sangat mengagetkan si Bapak. Waktu itu sekitar pukul 10.00. Si Bapak yang sudah lanjut usia, berjalanhilir mudik dengan membawa beban persoalan yang terus-menerus merongrong pikirannya.
Bapak : Dia, putra sulungku. Si Anak hilang telah kembali pulang. Dan sebuah usul diajukan; segera mengungsi ke daerah pendudukan yang serba aman tenteram. Hem, ya . . . ya. Usulnya dapat kumengerti. Karena ia sudah terbiasa hidup di sana. Dalam sangkar. Jauh dari deru prahara. Bertahun mata hatinya digelapbutakan oleh nina-bobo, lela-buai si penjajah. Bertahun semangatnya dijinakkan oleh roti-keju. Celaka, oo, betapa celaka nian
Si Bungsu senyum memandang.
Bungsu : Ah, Bapak rupanya lagi ngomong seorang diri.
Bapak : Ya, anakku, terkadang orang lebih suka ngomong pada diri sendiri. Tapi bukankah tadi kau bersama abangmu?
Bungsu : Ya. Sehari kami tamasya mengitari seluruh penjuru kota. Sayang sekali, kami tidak berhasil menjumpai Mas . . . .
Bapak : Tunanganmu?
Bungsu : Ah, dia selalu sibuk dengan urusan kemiliteran melulu. Bahkan, ketika kami mendatangi asramanya, ia tak ada. Kata mereka, ia sedang rapat dinas. Heheh, seolah seluruh hidupnya tersita olehurusan-urusan militer saja.
Bapak : Kita sedang dalam keadaan darurat perang, Nak. Dan dalam keadaan begini, bagi seorang prajurit kepentingan negara ada di atas segalanya. Bukan saja seluruh waktunya, bahkan juga jiwa raganya. Tapi, eh, mana abangmu sekarang?Bungsu : Oo, rupanya dia begitu rindu pada bumi kelahirannya. Seluruh penjuru dipotreti semua. Tapi kurasa abang akan segera tiba. Dan sudahkah Bapak menjawab usul yang diajukannya itu?
Bapak : Itulah, itulah yang hendak kuputuskan sekarang ini, Nak.
Bungsu : Nah, itulah dia!
Si Sulung datang dengan mencangklong pesawat potret, mengenakan kacamata hitam. Terus duduk, melepas kacamata, dan meletakkan pesawat potret di meja.
Sulung : Huhuh, kota tercintaku ini rupanya sudah berubah wajah. Dipenuhi baju seragam menyandang senapan. Dipagari lingkaran pagar kawat berduri. Wajahnya kini menjadi garang berhiaskan laras-laras senapan mesin. Tapi di atas segalanya, kota tercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaannya.
Bapak : Begitulah, Nak, suasana kota yang sedang dicekam keadaan darurat perang.
Sulung : Ya, pertanda akan hilang keamanan, berganti huru-hara keonaran. Dan, mumpung masih keburu waktu, bagaimana dengan putusan Bapak atas usulku itu?
Bapak : Menyesal sekali, Nak . . . .
Sulung : Bapak menjawab dengan penolakan, bukan?
Bapak : Ya.
Bungsu : Jawaban Bapak sangat bijaksana.
Sulung : Bijaksana!?! Ya, kau benar manisku. Setidak-tidaknya demikian anggapanmu karena bukankah secara kebetulan tunanganmu adalah seorang perwira TNI di sini. Tapi, maaf, bukan maksudkumenyindirmu, adik sayang
Bungsu : Ah, tidak mengapa. Kau hanya sedang keletihan. Mengasolah dulu, ya, Bang. Mengasolah, kau begitu capek nampaknya. Bapak, aku pergi belanja dulu untuk hidangan makan siang nanti. Si Bungsu pergi, si Sulung mengantar dengan senyum.
Bapak : Nak, pertimbanganku bukanlah karena masa depan adikmu seorang. Juga bukan karena masa depan sisa usiaku.
Sulung : Hem. Lalu? Karena rumah dan tanah pusaka ini barangkali ya, Bapak?
Bapak : Sesungguhnyalah, Nak, lebih karena itu.
Sulung : Oo ya?!? Apa itu, Pak?
Bapak : Kemerdekaan.
Sulung : Kemerdekaan!?! Kemerdekaan siapa!
Bapak : Bangsa dan bumi pusaka.
Si Sulung tertawa.
Sulung : Bapak yang baik. Bertahun aku hidup di daerah pendudukan sama bersama beribu bangsa awak yang tercinta. Dan aku seperti juga mereka, tidak pernah merasa jadi budak belian ataupun tawanan perang. Ketahuilah ya, Bapak, di sana kami hidup merdeka.
Bapak : Bebaskah kau menuntut kemerdekaan?
Sulung : Hoho, apa yang mesti dituntut, kami di sana manusia merdeka.
Bapak : Bagaimana kemerdekaan menurut kau, Nak?
Sulung : Hem. Di sana kami punya wali negara, bangsa awak. Di sana segala lapangan kerja terbuka lebar-lebar bagi bangsa awak. Di sana, bagian terbesar tentara polisi, alat negara bangsa awak. Di atas segalanya, kami di sana hidup dalam damai. Rukun berdampingan antara si putih dan bangsa awak . . . . Bapak : Dan di atas segalanya pula, di sana si putih menjadi yang dipertuan. Dan sebuah bendera asing menjadi lambang kedaulatan, lambang kuasa penjajahan. Dapatkah itu diartikan suatu kemerdekaan?
Bapak : Nak, kemerdekaan atau penjajahan selalu soal politik. Selalu buah politik.
Sulung : Baik, baik. Tapi ya, Bapak, kita bukan politisi.
Bapak : Nak, setiap patriot pada hakikatnya adalah seorang diplomat, seorang negarawan. Dan, justru karena kesadaran dan pengertian politiknya itulah, seorang patriot akan senantiasa membangkang terhadap tiap politik penjajahan. Betapapun manis bentuk lahirnya. Renungkanlah itu, Nak. Dan marilah kuambil contoh masa lalu. Bukankah dulu semasa kita masih hidup dalam alam Hindia-Belanda. Kita hidup serba kecukupan dalam sandang-pangan. Kesejahteraan hidup keluarga dalam suasana aman tentram dan masa pensiun yang enak, sudah dengan sendirinya berarti hidup dalam kemerdekaan? Tidak, anakku! Kemerdekaan adalah soal harga diri kebangsaan, soal kehormatan kebangsaan. Ia ditentukan oleh kenyataan, apakah suatu bangsa menjadi yang dipertuan mutlak atas bumi pusakanya sendiri atau tidak. Ya, anakku, renungkanlah kebenaran ucapanku ini. Renungkanlah.
Sulung : Menyesal ya, Bapak. Rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna . . .
Bapak : Namun kau Nak, kau wajib untuk merenungkannya. Sebab, aku yakin kau akan mampu menemukan titik simpul kebenaran ucapan itu
Drama ini terjadi pada tanggal 19 Januari 1949, sebulan sesudah Tentara Kolonial Belanda melancarkan aksinya yang kedua dengan merebut ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta. Tentara kolonial telah pula siap siaga untuk melancarkan serangan kilat hendak merebut sebuah kota strategis yang hanya dipertahankan oleh satu batalion Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di kota itulah si Bapak dikagetkan oleh kedatangan putra sulungnya yangmendadak muncul setelah bertahun-tahun merantau tanpa kabar berita. Si Sulung kembali pulang dengan membawa sebuah usul yang sangat mengagetkan si Bapak. Waktu itu sekitar pukul 10.00. Si Bapak yang sudah lanjut usia, berjalanhilir mudik dengan membawa beban persoalan yang terus-menerus merongrong pikirannya.
Bapak : Dia, putra sulungku. Si Anak hilang telah kembali pulang. Dan sebuah usul diajukan; segera mengungsi ke daerah pendudukan yang serba aman tenteram. Hem, ya . . . ya. Usulnya dapat kumengerti. Karena ia sudah terbiasa hidup di sana. Dalam sangkar. Jauh dari deru prahara. Bertahun mata hatinya digelapbutakan oleh nina-bobo, lela-buai si penjajah. Bertahun semangatnya dijinakkan oleh roti-keju. Celaka, oo, betapa celaka nian
Si Bungsu senyum memandang.
Bungsu : Ah, Bapak rupanya lagi ngomong seorang diri.
Bapak : Ya, anakku, terkadang orang lebih suka ngomong pada diri sendiri. Tapi bukankah tadi kau bersama abangmu?
Bungsu : Ya. Sehari kami tamasya mengitari seluruh penjuru kota. Sayang sekali, kami tidak berhasil menjumpai Mas . . . .
Bapak : Tunanganmu?
Bungsu : Ah, dia selalu sibuk dengan urusan kemiliteran melulu. Bahkan, ketika kami mendatangi asramanya, ia tak ada. Kata mereka, ia sedang rapat dinas. Heheh, seolah seluruh hidupnya tersita olehurusan-urusan militer saja.
Bapak : Kita sedang dalam keadaan darurat perang, Nak. Dan dalam keadaan begini, bagi seorang prajurit kepentingan negara ada di atas segalanya. Bukan saja seluruh waktunya, bahkan juga jiwa raganya. Tapi, eh, mana abangmu sekarang?Bungsu : Oo, rupanya dia begitu rindu pada bumi kelahirannya. Seluruh penjuru dipotreti semua. Tapi kurasa abang akan segera tiba. Dan sudahkah Bapak menjawab usul yang diajukannya itu?
Bapak : Itulah, itulah yang hendak kuputuskan sekarang ini, Nak.
Bungsu : Nah, itulah dia!
Si Sulung datang dengan mencangklong pesawat potret, mengenakan kacamata hitam. Terus duduk, melepas kacamata, dan meletakkan pesawat potret di meja.
Sulung : Huhuh, kota tercintaku ini rupanya sudah berubah wajah. Dipenuhi baju seragam menyandang senapan. Dipagari lingkaran pagar kawat berduri. Wajahnya kini menjadi garang berhiaskan laras-laras senapan mesin. Tapi di atas segalanya, kota tercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaannya.
Bapak : Begitulah, Nak, suasana kota yang sedang dicekam keadaan darurat perang.
Sulung : Ya, pertanda akan hilang keamanan, berganti huru-hara keonaran. Dan, mumpung masih keburu waktu, bagaimana dengan putusan Bapak atas usulku itu?
Bapak : Menyesal sekali, Nak . . . .
Sulung : Bapak menjawab dengan penolakan, bukan?
Bapak : Ya.
Bungsu : Jawaban Bapak sangat bijaksana.
Sulung : Bijaksana!?! Ya, kau benar manisku. Setidak-tidaknya demikian anggapanmu karena bukankah secara kebetulan tunanganmu adalah seorang perwira TNI di sini. Tapi, maaf, bukan maksudkumenyindirmu, adik sayang
Bungsu : Ah, tidak mengapa. Kau hanya sedang keletihan. Mengasolah dulu, ya, Bang. Mengasolah, kau begitu capek nampaknya. Bapak, aku pergi belanja dulu untuk hidangan makan siang nanti. Si Bungsu pergi, si Sulung mengantar dengan senyum.
Bapak : Nak, pertimbanganku bukanlah karena masa depan adikmu seorang. Juga bukan karena masa depan sisa usiaku.
Sulung : Hem. Lalu? Karena rumah dan tanah pusaka ini barangkali ya, Bapak?
Bapak : Sesungguhnyalah, Nak, lebih karena itu.
Sulung : Oo ya?!? Apa itu, Pak?
Bapak : Kemerdekaan.
Sulung : Kemerdekaan!?! Kemerdekaan siapa!
Bapak : Bangsa dan bumi pusaka.
Si Sulung tertawa.
Sulung : Bapak yang baik. Bertahun aku hidup di daerah pendudukan sama bersama beribu bangsa awak yang tercinta. Dan aku seperti juga mereka, tidak pernah merasa jadi budak belian ataupun tawanan perang. Ketahuilah ya, Bapak, di sana kami hidup merdeka.
Bapak : Bebaskah kau menuntut kemerdekaan?
Sulung : Hoho, apa yang mesti dituntut, kami di sana manusia merdeka.
Bapak : Bagaimana kemerdekaan menurut kau, Nak?
Sulung : Hem. Di sana kami punya wali negara, bangsa awak. Di sana segala lapangan kerja terbuka lebar-lebar bagi bangsa awak. Di sana, bagian terbesar tentara polisi, alat negara bangsa awak. Di atas segalanya, kami di sana hidup dalam damai. Rukun berdampingan antara si putih dan bangsa awak . . . . Bapak : Dan di atas segalanya pula, di sana si putih menjadi yang dipertuan. Dan sebuah bendera asing menjadi lambang kedaulatan, lambang kuasa penjajahan. Dapatkah itu diartikan suatu kemerdekaan?
Bapak : Nak, kemerdekaan atau penjajahan selalu soal politik. Selalu buah politik.
Sulung : Baik, baik. Tapi ya, Bapak, kita bukan politisi.
Bapak : Nak, setiap patriot pada hakikatnya adalah seorang diplomat, seorang negarawan. Dan, justru karena kesadaran dan pengertian politiknya itulah, seorang patriot akan senantiasa membangkang terhadap tiap politik penjajahan. Betapapun manis bentuk lahirnya. Renungkanlah itu, Nak. Dan marilah kuambil contoh masa lalu. Bukankah dulu semasa kita masih hidup dalam alam Hindia-Belanda. Kita hidup serba kecukupan dalam sandang-pangan. Kesejahteraan hidup keluarga dalam suasana aman tentram dan masa pensiun yang enak, sudah dengan sendirinya berarti hidup dalam kemerdekaan? Tidak, anakku! Kemerdekaan adalah soal harga diri kebangsaan, soal kehormatan kebangsaan. Ia ditentukan oleh kenyataan, apakah suatu bangsa menjadi yang dipertuan mutlak atas bumi pusakanya sendiri atau tidak. Ya, anakku, renungkanlah kebenaran ucapanku ini. Renungkanlah.
Sulung : Menyesal ya, Bapak. Rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna . . .
Bapak : Namun kau Nak, kau wajib untuk merenungkannya. Sebab, aku yakin kau akan mampu menemukan titik simpul kebenaran ucapan itu
Menyampaikan Gagasan dan Tanggapan dalam Diskusi
Menyampaikan Gagasan dan Tanggapan dalam Diskusi
Peragakan diskusi berikut ini!
Persaingan dalam Wirausaha
Peserta 1 : ”Bagaimana cara membentuk mental wirausahawan yang kuat agar tetap tangguh ketika mengalami kegagalan?”
Narasumber : ”Menjadi pengusaha tidak semudah membalik telapak tangan. Kalau semudah itu tentu dunia ini tidak ada orang-orang berstatus karyawan. Semua jadi pengusaha karena penghasilannya lebih besar daripadakaryawan. Pengalaman sejauh ini membuktikan bahwa pengusaha sukses memiliki mental yang kuat, lentur, dan tidak mudah putus asa. Jika ingin menjadi pengusaha bermental baja, hadapi masalah Anda dan cari solusinya. Di samping itu, Anda harus mampu bertindak cepat sesuai dengan kondisi persaingan di dunia usaha saat ini.”
Peserta 2 : ”Saya sependapat dengan narasumber bahwa kunci sukses berada di tangan kita sendiri. Tambahan pula, sukses dapat diraih jika persaingan dilakukan secara sehat. Akan tetapi, selama ini kita selalu dibingungkan strategi bersaing. Strategi apa yang dilakukan agar mampu bermain di dunia usaha?”
Narasumber : ”Usaha apa pun akan berhasil jika ada kemauan dan kemampuan. Di samping itu, Anda harus terus berkreasi dan berinovasi untukmemberikan pelayanan yang memuaskan. Anda harus melakukan perubahan yang tidak diberikan (difasilitasi) oleh usaha saingan Anda. Meniru usaha sah-sah saja yang terpenting Anda mampu mengelola usaha tersebut dan tekuni usaha Anda dengan sungguh-sungguh. Tambahan pula, faktor kesabaran juga penting karena kondisi tergesagesa dalam menghadapi sesuatu justru dapat menimbulkan keputusan yang gegabah dan bisa berakibat fatal
Peserta 3 : ”Saya kurang setuju dengan cara-cara yang Anda kemukakan karena hal tersebut hanya ada dalam teori-teori yang dipelajari mahasiswa. Sementara itu, apa yang akan kita hadapi adalah dunia usaha yang nyata. Hal terpenting bukan pada kemampuan dan kemauan, tetapi peluang.”
Peserta 4 : ”Pendapat Saudara juga dapat diterima, tetapi kita harus tetap memiliki skala prioritas. Bapak narasumber, saya mau bertanya tentangcara memulai usaha agar sukses
Narasumber : ”Pekerjaan akan berhasil jika dilakukan dengan serius. Anda perlu mengubah pola usaha bukan jenis usaha. Maksudnya, sistem untuk mengembangkan usaha dengan mencari celah baru yang tidak ditawarkan oleh usaha pesaing Anda. Lakukan hal-hal yang bersifat ekspansif bukan hanya menunggu bola, tetapi jadilah pioneer
Setelah Anda memperhatikan diskusi tersebut, pahamilah penjelasan berikut!
Cara Menyampaikan Gagasan dan Tanggapan dalam Diskusi Diskusi merupakan suatu bentuk bertukarpikiran yang teratur dan terarah baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Beberapa pendapat akan muncul dalam diskusi. Pendapat merupakan gagasan, pikiran, atau ide tentang suatu hal (orang atau peristiwa). Jika mengajukan pendapat dalam diskusi, Anda harus memiliki argumentasi. Argumentasi adalah alasan, contoh, dan bukti sehingga peserta diskusi membenarkan pendapat, gagasan, dan sikap.
Agar Anda mampu mengemukakan pendapat dengan alasan yang logis, lakukan langkah-langkah berikut.
1. Berpikir kritis dan logis.
2. Menjauhkan emosi dan subjektivitas.
3. Mampu memilih fakta yang sesuai dengan tujuan sehingga dapat ditarik kesimpulan yang sulit dibantah.
Dalam suatu diskusi, pendapat yang disampaikan peserta diskusi belum tentu dapat diterima oleh peserta diskusi lainnya. Sebaliknya, peserta lain sering menolak atau menyanggah dan mengajukan pendapatnya sendiri. Persetujuan dan penolakan suatu pendapat harus bersifat objektif dan disertai alasan yang logis.
Contoh kalimat persetujuan pendapat:
Saya sependapat dengan pendapat Saudara bahwa motivasi berasal dari diri sendiri dan didukung oleh dorongan orang-orang sekitar. Hal terpenting untuk memotivasi diri yaitu tetap teguh pendirian dan sabar.
Contoh kalimat penolakan pendapat:
Saya kurang sependapat dengan pernyataan yang Anda sampaikan karena wirausaha memerlukan modal bukan hanya kemauan. Kemauan tanpa ada kemampuan sama saja nol
Ketika Anda hendak menolak atau menyanggah pendapat orang lain, Anda harus mengingat hal-hal berikut
Peragakan diskusi berikut ini!
Persaingan dalam Wirausaha
Peserta 1 : ”Bagaimana cara membentuk mental wirausahawan yang kuat agar tetap tangguh ketika mengalami kegagalan?”
Narasumber : ”Menjadi pengusaha tidak semudah membalik telapak tangan. Kalau semudah itu tentu dunia ini tidak ada orang-orang berstatus karyawan. Semua jadi pengusaha karena penghasilannya lebih besar daripadakaryawan. Pengalaman sejauh ini membuktikan bahwa pengusaha sukses memiliki mental yang kuat, lentur, dan tidak mudah putus asa. Jika ingin menjadi pengusaha bermental baja, hadapi masalah Anda dan cari solusinya. Di samping itu, Anda harus mampu bertindak cepat sesuai dengan kondisi persaingan di dunia usaha saat ini.”
Peserta 2 : ”Saya sependapat dengan narasumber bahwa kunci sukses berada di tangan kita sendiri. Tambahan pula, sukses dapat diraih jika persaingan dilakukan secara sehat. Akan tetapi, selama ini kita selalu dibingungkan strategi bersaing. Strategi apa yang dilakukan agar mampu bermain di dunia usaha?”
Narasumber : ”Usaha apa pun akan berhasil jika ada kemauan dan kemampuan. Di samping itu, Anda harus terus berkreasi dan berinovasi untukmemberikan pelayanan yang memuaskan. Anda harus melakukan perubahan yang tidak diberikan (difasilitasi) oleh usaha saingan Anda. Meniru usaha sah-sah saja yang terpenting Anda mampu mengelola usaha tersebut dan tekuni usaha Anda dengan sungguh-sungguh. Tambahan pula, faktor kesabaran juga penting karena kondisi tergesagesa dalam menghadapi sesuatu justru dapat menimbulkan keputusan yang gegabah dan bisa berakibat fatal
Peserta 3 : ”Saya kurang setuju dengan cara-cara yang Anda kemukakan karena hal tersebut hanya ada dalam teori-teori yang dipelajari mahasiswa. Sementara itu, apa yang akan kita hadapi adalah dunia usaha yang nyata. Hal terpenting bukan pada kemampuan dan kemauan, tetapi peluang.”
Peserta 4 : ”Pendapat Saudara juga dapat diterima, tetapi kita harus tetap memiliki skala prioritas. Bapak narasumber, saya mau bertanya tentangcara memulai usaha agar sukses
Narasumber : ”Pekerjaan akan berhasil jika dilakukan dengan serius. Anda perlu mengubah pola usaha bukan jenis usaha. Maksudnya, sistem untuk mengembangkan usaha dengan mencari celah baru yang tidak ditawarkan oleh usaha pesaing Anda. Lakukan hal-hal yang bersifat ekspansif bukan hanya menunggu bola, tetapi jadilah pioneer
Setelah Anda memperhatikan diskusi tersebut, pahamilah penjelasan berikut!
Cara Menyampaikan Gagasan dan Tanggapan dalam Diskusi Diskusi merupakan suatu bentuk bertukarpikiran yang teratur dan terarah baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Beberapa pendapat akan muncul dalam diskusi. Pendapat merupakan gagasan, pikiran, atau ide tentang suatu hal (orang atau peristiwa). Jika mengajukan pendapat dalam diskusi, Anda harus memiliki argumentasi. Argumentasi adalah alasan, contoh, dan bukti sehingga peserta diskusi membenarkan pendapat, gagasan, dan sikap.
Agar Anda mampu mengemukakan pendapat dengan alasan yang logis, lakukan langkah-langkah berikut.
1. Berpikir kritis dan logis.
2. Menjauhkan emosi dan subjektivitas.
3. Mampu memilih fakta yang sesuai dengan tujuan sehingga dapat ditarik kesimpulan yang sulit dibantah.
Dalam suatu diskusi, pendapat yang disampaikan peserta diskusi belum tentu dapat diterima oleh peserta diskusi lainnya. Sebaliknya, peserta lain sering menolak atau menyanggah dan mengajukan pendapatnya sendiri. Persetujuan dan penolakan suatu pendapat harus bersifat objektif dan disertai alasan yang logis.
Contoh kalimat persetujuan pendapat:
Saya sependapat dengan pendapat Saudara bahwa motivasi berasal dari diri sendiri dan didukung oleh dorongan orang-orang sekitar. Hal terpenting untuk memotivasi diri yaitu tetap teguh pendirian dan sabar.
Contoh kalimat penolakan pendapat:
Saya kurang sependapat dengan pernyataan yang Anda sampaikan karena wirausaha memerlukan modal bukan hanya kemauan. Kemauan tanpa ada kemampuan sama saja nol
Ketika Anda hendak menolak atau menyanggah pendapat orang lain, Anda harus mengingat hal-hal berikut
- Emosi marah dan prasangka negatif harus dihindari
- Sanggahan harus objektif, logis, dan jujur.
- Menunjukkan data, fakta, ilustrasi, contoh, atau perbandingan yang dapat meyakinkan peserta lain
- Sanggahan atau penolakan disampaikan secara urut, teliti, dan tidak berbelit-belit. Dengan demikian, sanggahan mudah dimengerti.
- Jangan menjelekkan atau menyinggung orang lain.
- Pertanyaan atau tanggapan yang dikemukakan berhubungan dengan masalah yang sedang dibicarakan.
- Pertanyaan atau tanggapan dapat mempercepat pemahaman masalah, penemuan sebab, dan pemecahan masalah.
- Pertanyaan atau tanggapan tidak mengulangi pendapat yang pernah disampaikan peserta lain.
- Pertanyaan atau tanggapan disampaikan dengan kata dan kalimat yang tepat
- Pertanyaan atau tanggapan disampaikan dengan sikap terbuka dan sopan.
- Pertanyaan atau tanggapan dapat didukung atau diperjelas dengan gerak, mimik, nada suara, tekanan, dan intonasi.
Minggu, 06 Desember 2015
Jelaskan tentang biografi dan pola-pola definisi?
Berbicara tentang biografi
Riwayat hidup seorang tokoh bisa disebut biografi. Ada biografi yang ditulis sendiri oleh
yang bersangkutan. Namanya autobiografi. Biografi yang ditulis oleh orang lain cukup disebut
biografi.
Baik ditulis sendiri maupun ditulis orang lain, biografi biasanya menceritakan nama yang bersangkutan, tempat dan tanggal lahirnya, pendidikannya, kariernya, karya-karyanya, jabatan yang pernah didudukinya, pengalaman-pengalamannya, keinginan atau cita-citanya, keluarganya, orang tua serta sanak saudaranya, sepak terjangnya dalam dunia sosial, politik, budaya, ekonomi, atau dalam bidang kehidupan yang digelutinya selama hidup. Biografi
umumnya mengisahkan kebaikan-kebaikannya, jasa-jasanya, keberhasilannya, kelebihannya, keteladanannya, dan lain-lain. Hal-hal yang buruk, negatif, atau menyudutkan yang bersangkutan biasanya tidak dituliskan.
Pola definisi
Definisi selalu terdiri atas dua bagian. Bagian pertama yang didefinikasikan atau
yang dibatasi (difeniendum) dan bagian kedua yang mendefinisikan atau bagian yang
memberi batasan (definiens). Menurut sifat dan strukturnya, definisi dibedakan menjadi
(1) definisi nominal; (2) definisi logis atau definisi formal, dan (3) definisi luas (Keraf, 1982).
a. Definisi nominal umumnya digunakan dalam kamus. Dalam definisi nominal, suatu kata
dibatasi dengan menunjukkan sinonimnya, padanannya, terjemahannya, atau asal usulnya, misalny
b. Definisi formal merupakan pernyataan yang definiendum dan definiensnya sama bobotnya, sama nilainya. Pada definiensnya terdapat atasan (hipernim) dan pembeda dengan bawahan lain. Kedua ruas pada definisi formal seperti di atas pada dasarnya dapat dipertukarkan tempatnya tanpa menimbulkan perubahan pengertian, misalnyaManusia adalah makhluk hidup yang berakal berbudi
c. Definisi luas disusun secara fleksibel dan informal. Pola ini umumnya digunakan untuk menjelaskan konsep rumit yang tidak bisa dijelaskan dengan sebuah kalimat. Oleh karena itu, panjang pendeknya definisi luas beragam, bisa satu paragraf, satu bab, bahkan mungkin satu karangan utuh, misalnya Flamboyan termasuk keluarga polong-polongan. Bunganya seperti kupu-kupu, berwarna merah menyala, jingga, atau putih. Pohonnya tinggi, bercabang banyak dan lebar. Ranting-rantingnya penuh daun berkarang yang rimbun. Pada musim berbunga, semua daunnya rontok, yang tinggal hanyalah bunga yang indah. Umumnya flamboyan ditanam di tepi jalan sebagai peneduh dan penghias lingkungan.
d. Di samping ketiga definisi di atas, terdapat (1) definisi operasional, (2) definisi sinonim/ antonim, (3) definisi negatif, (4) definisi etimologis, (5) definisi terjemahan, dan lainlain.
3. Pola analogi
Pola analogi umumnya digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang belum dikenal dengan membandingkannya dengan sesuatu yang sudah dikenal, misalnya Hidup manusia bagai mengarungi lautan. Kapal tidak dapat berlayar lancar kalau ada topan, badai, dan batu karang. Dalam kehidupan demikian juga. Onak dalam duri bisa jadi kendala. Kepiawaian jurumudi sangat diperlukan jika ingin sampai di tepian. Begitu pula dengan kehidupan.
4. Pola klasifikasi
Dalam mengembangkan gagasan, kadangkala penulis mengelompokkan hal-hal yang memiliki persamaan. Pengelompokan ini biasanya dirinci lebih lanjut ke dalam kelompok yang lebih kecil, misalnya Indonesia mempunyai banyak sumber energi. Ada sumber energi yang dapat habis dan ada yang tidak akan habis. Termasuk sumber energi yang dapat habis adalah minyak bumi, batu bara, dan uranium. Adapun sumber energi yang tidak akan habis adalah panas bumi, tenaga surya, tenaga angin, dan tenaga biomassa yang pada saat ini sedang dieksploitasi. Sumber energi yang tidak akan ada habis-habisnya ini sering disebut sumber energi alternatif.
5. Pola sebab-akibat
Ada pendapat bahwa sesuatu ada karena ada sebabnya. Hubungan isi kalimat satu dan kalimat lain dalam sebuah paragraf pun adakalanya menunjukkan pola sebab-akibat. Sebab dapat dijadikan gagasan utama dan akibat-akibatnya dijadikan gagasan penjelas. Akan tetapi, dapat pula kebalikannya, misalnya Kata petrolleum diturunkan dari kata petra yang berarti batu karang dan oleum yang berarti minyak. Oleh karena itu, petroleum berarti minyak dari batu-batuan
6. Pola perbandingan dan pertentangan
Dengan perbandingan, penulis menjelaskan dua tiga objek dengan cara menunjukkan persamaan dan perbedaannya. Perbandingan dan pertentangan dapat dilakukan dengan pola utuh (A + B), dapat pula dengan pola bergantian (A/B + A/B). Dengan pola utuh objek pertama dideskripsikan secara tuntas. Selanjutnya disajikan deskripsi objek kedua, juga secara tuntas. Dengan pola bergantian, objek pertama dan kedua dideskripsikan secara bergantian, baik dengan penanda perbandingan (seperti, ibarat, bagaikan, laksana) maupun tidak.
Contoh: Perbandingan dan pertentangan dengan pola utuh (A+B). Dewasa ini banyak jenis alat yang digunakan manusia. Di antaranya bernama pompa. Ada pompa tangan, pompa listrik, dan kincir angin. Sesuai dengan namanya, pompa tangan digerakkan secara manual oleh tangan manusia. Berbeda halnya dengan pompa listrik. Pompa ini menggunakan tenaga listrik, baik dari jaringan listrik PLN maupun dari listrik tenaga diesel, sebagai tenaga penggeraknya. Tanpa listrik, pompa ini tidak dapat berfungsi. Kincir angin lain lagi. Kincir angin digerakkan oleh tenaga angin. Sumber tenaga dan bentuknya berbeda, namun gunanya sama: memindahkan air dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi.
Riwayat hidup seorang tokoh bisa disebut biografi. Ada biografi yang ditulis sendiri oleh
yang bersangkutan. Namanya autobiografi. Biografi yang ditulis oleh orang lain cukup disebut
biografi.
Baik ditulis sendiri maupun ditulis orang lain, biografi biasanya menceritakan nama yang bersangkutan, tempat dan tanggal lahirnya, pendidikannya, kariernya, karya-karyanya, jabatan yang pernah didudukinya, pengalaman-pengalamannya, keinginan atau cita-citanya, keluarganya, orang tua serta sanak saudaranya, sepak terjangnya dalam dunia sosial, politik, budaya, ekonomi, atau dalam bidang kehidupan yang digelutinya selama hidup. Biografi
umumnya mengisahkan kebaikan-kebaikannya, jasa-jasanya, keberhasilannya, kelebihannya, keteladanannya, dan lain-lain. Hal-hal yang buruk, negatif, atau menyudutkan yang bersangkutan biasanya tidak dituliskan.
Pola definisi
Definisi selalu terdiri atas dua bagian. Bagian pertama yang didefinikasikan atau
yang dibatasi (difeniendum) dan bagian kedua yang mendefinisikan atau bagian yang
memberi batasan (definiens). Menurut sifat dan strukturnya, definisi dibedakan menjadi
(1) definisi nominal; (2) definisi logis atau definisi formal, dan (3) definisi luas (Keraf, 1982).
a. Definisi nominal umumnya digunakan dalam kamus. Dalam definisi nominal, suatu kata
dibatasi dengan menunjukkan sinonimnya, padanannya, terjemahannya, atau asal usulnya, misalny
- Etika adalah sopan santun dalam pergaulan.
- Cocos nucifera linn populer dengan nama kelap
- Folklor berasal dari kata folk dan lore. Folk berarti sekelompok orang memiliki ciri fisik, sosial, dan budaya yang membedakannya dengan kelompok lain.
b. Definisi formal merupakan pernyataan yang definiendum dan definiensnya sama bobotnya, sama nilainya. Pada definiensnya terdapat atasan (hipernim) dan pembeda dengan bawahan lain. Kedua ruas pada definisi formal seperti di atas pada dasarnya dapat dipertukarkan tempatnya tanpa menimbulkan perubahan pengertian, misalnyaManusia adalah makhluk hidup yang berakal berbudi
c. Definisi luas disusun secara fleksibel dan informal. Pola ini umumnya digunakan untuk menjelaskan konsep rumit yang tidak bisa dijelaskan dengan sebuah kalimat. Oleh karena itu, panjang pendeknya definisi luas beragam, bisa satu paragraf, satu bab, bahkan mungkin satu karangan utuh, misalnya Flamboyan termasuk keluarga polong-polongan. Bunganya seperti kupu-kupu, berwarna merah menyala, jingga, atau putih. Pohonnya tinggi, bercabang banyak dan lebar. Ranting-rantingnya penuh daun berkarang yang rimbun. Pada musim berbunga, semua daunnya rontok, yang tinggal hanyalah bunga yang indah. Umumnya flamboyan ditanam di tepi jalan sebagai peneduh dan penghias lingkungan.
d. Di samping ketiga definisi di atas, terdapat (1) definisi operasional, (2) definisi sinonim/ antonim, (3) definisi negatif, (4) definisi etimologis, (5) definisi terjemahan, dan lainlain.
3. Pola analogi
Pola analogi umumnya digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang belum dikenal dengan membandingkannya dengan sesuatu yang sudah dikenal, misalnya Hidup manusia bagai mengarungi lautan. Kapal tidak dapat berlayar lancar kalau ada topan, badai, dan batu karang. Dalam kehidupan demikian juga. Onak dalam duri bisa jadi kendala. Kepiawaian jurumudi sangat diperlukan jika ingin sampai di tepian. Begitu pula dengan kehidupan.
4. Pola klasifikasi
Dalam mengembangkan gagasan, kadangkala penulis mengelompokkan hal-hal yang memiliki persamaan. Pengelompokan ini biasanya dirinci lebih lanjut ke dalam kelompok yang lebih kecil, misalnya Indonesia mempunyai banyak sumber energi. Ada sumber energi yang dapat habis dan ada yang tidak akan habis. Termasuk sumber energi yang dapat habis adalah minyak bumi, batu bara, dan uranium. Adapun sumber energi yang tidak akan habis adalah panas bumi, tenaga surya, tenaga angin, dan tenaga biomassa yang pada saat ini sedang dieksploitasi. Sumber energi yang tidak akan ada habis-habisnya ini sering disebut sumber energi alternatif.
5. Pola sebab-akibat
Ada pendapat bahwa sesuatu ada karena ada sebabnya. Hubungan isi kalimat satu dan kalimat lain dalam sebuah paragraf pun adakalanya menunjukkan pola sebab-akibat. Sebab dapat dijadikan gagasan utama dan akibat-akibatnya dijadikan gagasan penjelas. Akan tetapi, dapat pula kebalikannya, misalnya Kata petrolleum diturunkan dari kata petra yang berarti batu karang dan oleum yang berarti minyak. Oleh karena itu, petroleum berarti minyak dari batu-batuan
6. Pola perbandingan dan pertentangan
Dengan perbandingan, penulis menjelaskan dua tiga objek dengan cara menunjukkan persamaan dan perbedaannya. Perbandingan dan pertentangan dapat dilakukan dengan pola utuh (A + B), dapat pula dengan pola bergantian (A/B + A/B). Dengan pola utuh objek pertama dideskripsikan secara tuntas. Selanjutnya disajikan deskripsi objek kedua, juga secara tuntas. Dengan pola bergantian, objek pertama dan kedua dideskripsikan secara bergantian, baik dengan penanda perbandingan (seperti, ibarat, bagaikan, laksana) maupun tidak.
Contoh: Perbandingan dan pertentangan dengan pola utuh (A+B). Dewasa ini banyak jenis alat yang digunakan manusia. Di antaranya bernama pompa. Ada pompa tangan, pompa listrik, dan kincir angin. Sesuai dengan namanya, pompa tangan digerakkan secara manual oleh tangan manusia. Berbeda halnya dengan pompa listrik. Pompa ini menggunakan tenaga listrik, baik dari jaringan listrik PLN maupun dari listrik tenaga diesel, sebagai tenaga penggeraknya. Tanpa listrik, pompa ini tidak dapat berfungsi. Kincir angin lain lagi. Kincir angin digerakkan oleh tenaga angin. Sumber tenaga dan bentuknya berbeda, namun gunanya sama: memindahkan air dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi.
Jelaskan membedakan makna konotatif denotatif dan membedakan makna kias dan lugas?
Membedakan makna konotatif – denotatif
Kata pada umumnya mengacu pada pengertian dasar (denotasi) tertentu. Kata wanita,
misalnya, memiliki makna dasar perempuan. Karena pandangan, tertentu, kata wanita
diberi nuansa makna modern, rambut pendek, berani, kritis, dan lain-lain. Makna tambahan
seperti itu disebut konotasi.
Kata-kata yang bermakna denotatif tepat digunakan dalam penulisan karya ilmiah.
Pembaca tidak akan menangkap informasi lain, kecuali yang tersurat. Sebaliknya, katakata
yang bermakna konotatif biasanya digunakan dalam karya sastra, khususnya puisi.
Hal itu terjadi karena penyair sering ”menitipkan” perasaan, penilaian, dan penghargaannya
secara tersirat.
Ada kata yang berkonotasi positif (mengandung nilai rasa tinggi, halus, mulia, sopan,
terpelajar, dan sebagainya) serta ada yang berkonotasi negatif (mengandung nilai rasa
rendah, kasar, hina, tidak sopan, bodoh, dan sebagainya
Membedakan makna konotatif – denotatif
Kata pada umumnya mengacu pada pengertian dasar (denotasi) tertentu. Kata wanita, misalnya, memiliki makna dasar perempuan. Karena pandangan, tertentu, kata wanita diberi nuansa makna modern, rambut pendek, berani, kritis, dan lain-lain. Makna tambahan seperti itu disebut konotasi.
Kata-kata yang bermakna denotatif tepat digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Pembaca tidak akan menangkap informasi lain, kecuali yang tersurat. Sebaliknya, katakata yang bermakna konotatif biasanya digunakan dalam karya sastra, khususnya puisi. Hal itu terjadi karena penyair sering ”menitipkan” perasaan, penilaian, dan penghargaannya secara tersirat.
Ada kata yang berkonotasi positif (mengandung nilai rasa tinggi, halus, mulia, sopan, terpelajar, dan sebagainya) serta ada yang berkonotasi negatif (mengandung nilai rasa rendah, kasar, hina, tidak sopan, bodoh, dan sebagainya
Membedakan makna kias dan lugas
Makna kias dan makna lugas dibedakan atas langsung tidaknya acuan. Kata kursi, misalnya, mengacu pada mengacu pada tempat duduk yang berkaki dan bersandaran. Konsep itu merupakan makna lugas dari kata kepala dan bagian tubuh di atas leher makna lugas kata kursi. Dengan demikian, makna lugas itu wajar, apa adanya, dan tanpa mendapatkan konotasi arti tertentu.
Lain halnya dengan makna kias. Makna kias itu bukan makna sebenarnya, melainkan makna ibarat atau makna perbandingan. Surat resmi, surat dinas, tata tertib, peraturan, undang-undang, dan tulisan ilmiah, umumnya disusun dengan kata-kata yang bermakna lugas. Pada tulisan-tulisan tersebut, penulis tidak ingin tulisannya ditafsirkan lain.
Kata pada umumnya mengacu pada pengertian dasar (denotasi) tertentu. Kata wanita,
misalnya, memiliki makna dasar perempuan. Karena pandangan, tertentu, kata wanita
diberi nuansa makna modern, rambut pendek, berani, kritis, dan lain-lain. Makna tambahan
seperti itu disebut konotasi.
Kata-kata yang bermakna denotatif tepat digunakan dalam penulisan karya ilmiah.
Pembaca tidak akan menangkap informasi lain, kecuali yang tersurat. Sebaliknya, katakata
yang bermakna konotatif biasanya digunakan dalam karya sastra, khususnya puisi.
Hal itu terjadi karena penyair sering ”menitipkan” perasaan, penilaian, dan penghargaannya
secara tersirat.
Ada kata yang berkonotasi positif (mengandung nilai rasa tinggi, halus, mulia, sopan,
terpelajar, dan sebagainya) serta ada yang berkonotasi negatif (mengandung nilai rasa
rendah, kasar, hina, tidak sopan, bodoh, dan sebagainya
Membedakan makna konotatif – denotatif
Kata pada umumnya mengacu pada pengertian dasar (denotasi) tertentu. Kata wanita, misalnya, memiliki makna dasar perempuan. Karena pandangan, tertentu, kata wanita diberi nuansa makna modern, rambut pendek, berani, kritis, dan lain-lain. Makna tambahan seperti itu disebut konotasi.
Kata-kata yang bermakna denotatif tepat digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Pembaca tidak akan menangkap informasi lain, kecuali yang tersurat. Sebaliknya, katakata yang bermakna konotatif biasanya digunakan dalam karya sastra, khususnya puisi. Hal itu terjadi karena penyair sering ”menitipkan” perasaan, penilaian, dan penghargaannya secara tersirat.
Ada kata yang berkonotasi positif (mengandung nilai rasa tinggi, halus, mulia, sopan, terpelajar, dan sebagainya) serta ada yang berkonotasi negatif (mengandung nilai rasa rendah, kasar, hina, tidak sopan, bodoh, dan sebagainya
Membedakan makna kias dan lugas
Makna kias dan makna lugas dibedakan atas langsung tidaknya acuan. Kata kursi, misalnya, mengacu pada mengacu pada tempat duduk yang berkaki dan bersandaran. Konsep itu merupakan makna lugas dari kata kepala dan bagian tubuh di atas leher makna lugas kata kursi. Dengan demikian, makna lugas itu wajar, apa adanya, dan tanpa mendapatkan konotasi arti tertentu.
Lain halnya dengan makna kias. Makna kias itu bukan makna sebenarnya, melainkan makna ibarat atau makna perbandingan. Surat resmi, surat dinas, tata tertib, peraturan, undang-undang, dan tulisan ilmiah, umumnya disusun dengan kata-kata yang bermakna lugas. Pada tulisan-tulisan tersebut, penulis tidak ingin tulisannya ditafsirkan lain.
Apa saja pokok-pokok sasaran yang dijadikan sasaran dalam meresensi buku ?
Pokok-Pokok Resensi
Teks tersebut merupakan resensi buku kumpulan cerpen. Asal kata resensi berasal dari bahasa Belanda resensie atau bahasa latin resenseo yang berarti ulasan atau uraian tentang buku, film, drama, teater, ataupun kaset. Ulasan resensi bersifat informatif mengenai pertimbangan mutu, baik, atau buruk sebuah buku. Resensi buku bertujuan memberikan rangsangan kepada pembaca agar membaca dan memiliki buku tertentu. Di samping itu, resensi buku dapat membantu penerbit atau pengarang untuk memperkenalkan buku yang baru diterbitkan. Agar mampu menulis resensi Anda harus mengetahui pokok-pokok isi resensi.
Pokok-pokok yang dijadikan sasaran dalam meresensi buku sebagai berikut.
1. Identitas Buku
Identitas buku meliputi judul, nama pengarang, nama penerbit, tempat dan tahun terbit, cetakan, serta tebal buku.
2. Pembuka Resensi
Kegiatan menulis resensi dapat dilakukan dengan mengutip paragraf dalam buku. Kutipan ini sebagai landasan berpikir. Penulis juga dapat mengemukakan tema buku secara singkat yang dilengkapi dengan deskripsi isi buku dan memperkenalkan kepengarangan (nama, ketenaran, hasil karya, ataupun proses kreatifnya).
3. Macam atau Jenis Buku
Penulis resensi menunjukkan jenis buku yang diulas kepada pembaca. Dengan kata lain, ia harus mengklasifikasi buku itu dalam kelas atau kelompok buku tertentu, misalnya fiksi dan nonfiksi.
4. Keunggulan Buku
Penulis resensi mengemukakan segi-segi menarik dari buku tersebut. Penulis dapat menguraikan hal-hal berikut
a. Organisasi Buku
Organisasi buku meliputi kerangka buku, hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lain. Jadi, ada kepaduan, kejelasan,dan memperlihatkan perkembangan yang logis.
b. Isi Buku
Isi buku menyangkut paparan dan rincian buku, serta adanya
kesimpulan umum. Buku dikatakan berkualitas jika organisasi dantema terangkai padu, baik, dan benar.
c. Bahasa
Penggunaan bahasa yang baik dapat dinilai dari segi struktur kalimat, hubungan antarkalimat, dan diksi atau pilihan kata. Selain itu, perlu pembedaan antara penggunaan bahasa untuk buku ilmiah dan buku fiksi sastra. Bahasa dalam buku ilmiah bersifat denotatif, satu penafsiran, sedangkan bahasa fiksi sastra bersifat konotatif untuk mengembangkan daya imajinasi
5. Kelemahan Buku
Resensi buku juga menguraikan kelemahan buku. Kelemahan ini meliputi cacat fisik (kelengkapan halaman, konsistensi penulisan, kualitas penjilidan) dan pembahasan yang tidak sistematis. Sisi kelemahan bisa disesuaikan dengan tema yang mengikat buku tersebut.
6. Nilai Buku
Apabila penulis resensi telah memberikan gambaran mengenai latar belakang buku dan mengemukakan pokok-pokok yang menjadi sasaran ulasan, penulis resensi telah menilai buku. Nilai sebuah buku akan lebih jelas jika dibandingkan dengan karya lain.
Teks tersebut merupakan resensi buku kumpulan cerpen. Asal kata resensi berasal dari bahasa Belanda resensie atau bahasa latin resenseo yang berarti ulasan atau uraian tentang buku, film, drama, teater, ataupun kaset. Ulasan resensi bersifat informatif mengenai pertimbangan mutu, baik, atau buruk sebuah buku. Resensi buku bertujuan memberikan rangsangan kepada pembaca agar membaca dan memiliki buku tertentu. Di samping itu, resensi buku dapat membantu penerbit atau pengarang untuk memperkenalkan buku yang baru diterbitkan. Agar mampu menulis resensi Anda harus mengetahui pokok-pokok isi resensi.
Pokok-pokok yang dijadikan sasaran dalam meresensi buku sebagai berikut.
1. Identitas Buku
Identitas buku meliputi judul, nama pengarang, nama penerbit, tempat dan tahun terbit, cetakan, serta tebal buku.
2. Pembuka Resensi
Kegiatan menulis resensi dapat dilakukan dengan mengutip paragraf dalam buku. Kutipan ini sebagai landasan berpikir. Penulis juga dapat mengemukakan tema buku secara singkat yang dilengkapi dengan deskripsi isi buku dan memperkenalkan kepengarangan (nama, ketenaran, hasil karya, ataupun proses kreatifnya).
3. Macam atau Jenis Buku
Penulis resensi menunjukkan jenis buku yang diulas kepada pembaca. Dengan kata lain, ia harus mengklasifikasi buku itu dalam kelas atau kelompok buku tertentu, misalnya fiksi dan nonfiksi.
4. Keunggulan Buku
Penulis resensi mengemukakan segi-segi menarik dari buku tersebut. Penulis dapat menguraikan hal-hal berikut
a. Organisasi Buku
Organisasi buku meliputi kerangka buku, hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lain. Jadi, ada kepaduan, kejelasan,dan memperlihatkan perkembangan yang logis.
b. Isi Buku
Isi buku menyangkut paparan dan rincian buku, serta adanya
kesimpulan umum. Buku dikatakan berkualitas jika organisasi dantema terangkai padu, baik, dan benar.
c. Bahasa
Penggunaan bahasa yang baik dapat dinilai dari segi struktur kalimat, hubungan antarkalimat, dan diksi atau pilihan kata. Selain itu, perlu pembedaan antara penggunaan bahasa untuk buku ilmiah dan buku fiksi sastra. Bahasa dalam buku ilmiah bersifat denotatif, satu penafsiran, sedangkan bahasa fiksi sastra bersifat konotatif untuk mengembangkan daya imajinasi
5. Kelemahan Buku
Resensi buku juga menguraikan kelemahan buku. Kelemahan ini meliputi cacat fisik (kelengkapan halaman, konsistensi penulisan, kualitas penjilidan) dan pembahasan yang tidak sistematis. Sisi kelemahan bisa disesuaikan dengan tema yang mengikat buku tersebut.
6. Nilai Buku
Apabila penulis resensi telah memberikan gambaran mengenai latar belakang buku dan mengemukakan pokok-pokok yang menjadi sasaran ulasan, penulis resensi telah menilai buku. Nilai sebuah buku akan lebih jelas jika dibandingkan dengan karya lain.
Sabtu, 05 Desember 2015
Jelaskan menyimak dan menentukan unsur-unsur bentuk puisi yang disampaikan secara langsung?
Menyimak dan Menentukan Unsur-Unsur Bentuk Puisi yang Disampaikan Secara Langsung
Sepertihalnya menyimak atau mendengarkan pembacaan suatu cerita, menikmati dan menghayati pembacaan puisi secara langsung, terasa lebih menyenangkan dibandingkan dengan membaca sendiri teks aslinya. Apalagi jika si pembaca puisi tersebut memiliki kemampuan membacakan puisi secara baik. Tentu selain kita dapat menikmati dan menghayati isi serta keindahan bentuk penulisan puisi itu sendiri, kita juga dapat menikmati kepiawaian si pembaca puisi dalam membacakannya. Ada kalanya saat kita membaca suatu teks puisi, kita tidak tertarik sama sekali dengan kata-kata serta isi puisi yang kita baca. Akan tetapi pada saat puisi tersebut dibacakan oleh seseorang dengan lafal, intonasi, serta ekspresi yang tepat, kita menjadi tertarik oleh katakata serta isi puisi yang dibacakan tersebut. Secara umum menarik dan tidaknya suatu puisi, dapat ditentukan oleh beberapa hal, di antaranya sebagai beriku
Kembalikan Indonesia Padaku Kepada Kang Ilen
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa, Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 watt,
Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam lantaran berat bebannya kemudian angsaangsa berenang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 watt, sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenangrenang sambil main pingpong di atas Pulau Jawa yangtenggelam dan membawa seratus juta bola lampu 15 watt ke dasar lautan
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Sepertihalnya menyimak atau mendengarkan pembacaan suatu cerita, menikmati dan menghayati pembacaan puisi secara langsung, terasa lebih menyenangkan dibandingkan dengan membaca sendiri teks aslinya. Apalagi jika si pembaca puisi tersebut memiliki kemampuan membacakan puisi secara baik. Tentu selain kita dapat menikmati dan menghayati isi serta keindahan bentuk penulisan puisi itu sendiri, kita juga dapat menikmati kepiawaian si pembaca puisi dalam membacakannya. Ada kalanya saat kita membaca suatu teks puisi, kita tidak tertarik sama sekali dengan kata-kata serta isi puisi yang kita baca. Akan tetapi pada saat puisi tersebut dibacakan oleh seseorang dengan lafal, intonasi, serta ekspresi yang tepat, kita menjadi tertarik oleh katakata serta isi puisi yang dibacakan tersebut. Secara umum menarik dan tidaknya suatu puisi, dapat ditentukan oleh beberapa hal, di antaranya sebagai beriku
- Keunikan tema atau pokok permasalahan yang disampaikan.
- Ketepatan dalam menggunakan diksi atau pilihan katanya.
- Cara mengolah atau menggunakan ungkapan, majas/gaya bahasa, serta berbagai simbol atau perlambang.
- Ketepatan atau keserasian dalam mengolah rima serta kesyahduan iramanya.
Kembalikan Indonesia Padaku Kepada Kang Ilen
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa, Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 watt,
Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam lantaran berat bebannya kemudian angsaangsa berenang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 watt, sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenangrenang sambil main pingpong di atas Pulau Jawa yangtenggelam dan membawa seratus juta bola lampu 15 watt ke dasar lautan
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Langganan:
Postingan (Atom)
Label
Mengenai Saya
Iklan 300x250
Recent post
Categories
Popular Posts
-
Memperkenalkan Diri dan Orang Lain dalam Forum Resmi dengan Intonasi dan Jeda Kalimat yang Tepat Pada pertemuan yang lalu kamu telah berlat...
-
Cara Membuat Parafrasa Berikut adalah hal yang perlu dilakukan untuk membuat parafrasa dari sebuah bacaan. Bacalah naskah yang akan dipar...
-
Contoh pidato perpisahan 1 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kepada yang kami hormati Bapak Kepala Sekolah beserta wakil Yang ka...
-
Klasifikasi Kata Berdasarkan Kelas Kata Dalam sebuah bacaan, terkandung banyak unsur bahasa yang berkaitan dengan makna kata dan ruang ling...
-
Bagimu, kemerdekaan bumi pusaka. Drama ini terjadi pada tanggal 19 Januari 1949, sebulan sesudah Tentara Kolonial Belanda melancarkan aksin...
-
Mengenal Kalimat Bernalar Penalaran adalah suatu proses berpikir untuk menghubung-hubungkan fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpul...
-
Durasi Yang dimaksud dengan durasi adalah suatu jenis unsur suprasegmental yang ditandai oleh panjang pendeknya waktu yang diperlukan untuk...
-
Mengidentifikasi Kata yang Mengalami Proses Morfologis Proses morfologis adalah peristiwa pembentukan kata kompleks. macam bagian proses m...
-
Surat Dinas Surat dinas merupakan surat resmi yang ditulis oleh instansi, jawatan, atau organisasi tentang segala sesuatu yang berhubungan d...
-
Menulis Buku Harian Menulis buku harian sangat menyenangkan karena kita dapat menuliskan dengan gaya bahasamu sendiri. kita tidak harus me...