Minggu, 06 Desember 2015

Jelaskan tentang biografi dan pola-pola definisi?

Berbicara tentang biografi
Riwayat hidup seorang tokoh bisa disebut biografi. Ada biografi yang ditulis sendiri oleh
yang bersangkutan. Namanya autobiografi. Biografi yang ditulis oleh orang lain cukup disebut
biografi.

Baik ditulis sendiri maupun ditulis orang lain, biografi biasanya menceritakan nama yang bersangkutan, tempat dan tanggal lahirnya, pendidikannya, kariernya, karya-karyanya, jabatan yang pernah didudukinya, pengalaman-pengalamannya, keinginan atau cita-citanya, keluarganya, orang tua serta sanak saudaranya, sepak terjangnya dalam dunia sosial, politik, budaya, ekonomi, atau dalam bidang kehidupan yang digelutinya selama hidup. Biografi
umumnya mengisahkan kebaikan-kebaikannya, jasa-jasanya, keberhasilannya, kelebihannya, keteladanannya, dan lain-lain. Hal-hal yang buruk, negatif, atau menyudutkan yang bersangkutan biasanya tidak dituliskan.

Pola definisi
Definisi selalu terdiri atas dua bagian. Bagian pertama yang didefinikasikan atau
yang dibatasi (difeniendum) dan bagian kedua yang mendefinisikan atau bagian yang
memberi batasan (definiens). Menurut sifat dan strukturnya, definisi dibedakan menjadi
(1) definisi nominal; (2) definisi logis atau definisi formal, dan (3) definisi luas (Keraf, 1982).
a. Definisi nominal umumnya digunakan dalam kamus. Dalam definisi nominal, suatu kata
    dibatasi dengan menunjukkan sinonimnya, padanannya, terjemahannya, atau asal usulnya, misalny
  1. Etika adalah sopan santun dalam pergaulan.
  2.  Cocos nucifera linn populer dengan nama kelap
  3.  Folklor berasal dari kata folk dan lore. Folk berarti sekelompok orang memiliki ciri fisik, sosial, dan budaya yang membedakannya dengan kelompok lain. 
Kata lore berarti sebagian budaya yang diwariskan turun temurun secara lisan atau melalui contoh.

b. Definisi formal merupakan pernyataan yang definiendum dan definiensnya sama bobotnya, sama nilainya. Pada definiensnya terdapat atasan (hipernim) dan pembeda dengan bawahan lain. Kedua ruas pada definisi formal seperti di atas pada dasarnya dapat dipertukarkan tempatnya tanpa menimbulkan perubahan pengertian, misalnyaManusia adalah makhluk hidup yang berakal berbudi

c. Definisi luas disusun secara fleksibel dan informal. Pola ini umumnya digunakan untuk menjelaskan konsep rumit yang tidak bisa dijelaskan dengan sebuah kalimat. Oleh karena itu, panjang pendeknya definisi luas beragam, bisa satu paragraf, satu bab, bahkan mungkin satu karangan utuh, misalnya Flamboyan termasuk keluarga polong-polongan. Bunganya seperti kupu-kupu, berwarna merah menyala, jingga, atau putih. Pohonnya tinggi, bercabang banyak dan lebar. Ranting-rantingnya penuh daun berkarang yang rimbun. Pada musim berbunga, semua daunnya rontok, yang tinggal hanyalah bunga yang indah. Umumnya flamboyan ditanam di tepi jalan sebagai peneduh dan penghias lingkungan.

d. Di samping ketiga definisi di atas, terdapat (1) definisi operasional, (2) definisi sinonim/ antonim, (3) definisi negatif, (4) definisi etimologis, (5) definisi terjemahan, dan lainlain.

3. Pola analogi
Pola analogi umumnya digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang belum dikenal dengan membandingkannya dengan sesuatu yang sudah dikenal, misalnya Hidup manusia bagai mengarungi lautan. Kapal tidak dapat berlayar lancar kalau ada topan, badai, dan batu karang. Dalam kehidupan demikian juga. Onak dalam duri bisa jadi kendala. Kepiawaian jurumudi sangat diperlukan jika ingin sampai di tepian. Begitu pula dengan kehidupan.
 
4. Pola klasifikasi
Dalam mengembangkan gagasan, kadangkala penulis mengelompokkan hal-hal yang memiliki persamaan. Pengelompokan ini biasanya dirinci lebih lanjut ke dalam kelompok yang lebih kecil, misalnya Indonesia mempunyai banyak sumber energi. Ada sumber energi yang dapat habis dan ada yang tidak akan habis. Termasuk sumber energi yang dapat habis adalah minyak bumi, batu bara, dan uranium. Adapun sumber energi yang tidak akan habis adalah panas bumi, tenaga surya, tenaga angin, dan tenaga biomassa yang pada saat ini sedang dieksploitasi. Sumber energi yang tidak akan ada habis-habisnya ini sering disebut sumber energi alternatif.

5. Pola sebab-akibat
Ada pendapat bahwa sesuatu ada karena ada sebabnya. Hubungan isi kalimat satu dan kalimat lain dalam sebuah paragraf pun adakalanya menunjukkan pola sebab-akibat. Sebab dapat dijadikan gagasan utama dan akibat-akibatnya dijadikan gagasan penjelas. Akan tetapi, dapat pula kebalikannya, misalnya Kata petrolleum diturunkan dari kata petra yang berarti batu karang dan oleum yang berarti minyak. Oleh karena itu, petroleum berarti minyak dari batu-batuan

6. Pola perbandingan dan pertentangan
Dengan perbandingan, penulis menjelaskan dua tiga objek dengan cara menunjukkan persamaan dan perbedaannya. Perbandingan dan pertentangan dapat dilakukan dengan pola utuh (A + B), dapat pula dengan pola bergantian (A/B + A/B). Dengan pola utuh objek pertama dideskripsikan secara tuntas. Selanjutnya disajikan deskripsi objek kedua, juga secara tuntas. Dengan pola bergantian, objek pertama dan kedua dideskripsikan secara bergantian, baik dengan penanda perbandingan (seperti, ibarat, bagaikan, laksana) maupun tidak.

Contoh: Perbandingan dan pertentangan dengan pola utuh (A+B). Dewasa ini banyak jenis alat yang digunakan manusia. Di antaranya bernama pompa. Ada pompa tangan, pompa listrik, dan kincir angin. Sesuai dengan namanya, pompa tangan digerakkan secara manual oleh tangan manusia. Berbeda halnya dengan pompa listrik. Pompa ini menggunakan tenaga listrik, baik dari jaringan listrik PLN maupun dari listrik tenaga diesel, sebagai tenaga penggeraknya. Tanpa listrik, pompa ini tidak dapat berfungsi. Kincir angin lain lagi. Kincir angin digerakkan oleh tenaga angin. Sumber tenaga dan bentuknya berbeda, namun gunanya sama: memindahkan air dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi.

Jelaskan membedakan makna konotatif denotatif dan membedakan makna kias dan lugas?

Membedakan makna konotatif – denotatif
Kata pada umumnya mengacu pada pengertian dasar (denotasi) tertentu. Kata wanita,
misalnya, memiliki makna dasar perempuan. Karena pandangan, tertentu, kata wanita
diberi nuansa makna modern, rambut pendek, berani, kritis, dan lain-lain. Makna tambahan
seperti itu disebut konotasi.
Kata-kata yang bermakna denotatif tepat digunakan dalam penulisan karya ilmiah.
Pembaca tidak akan menangkap informasi lain, kecuali yang tersurat. Sebaliknya, katakata
yang bermakna konotatif biasanya digunakan dalam karya sastra, khususnya puisi.
Hal itu terjadi karena penyair sering ”menitipkan” perasaan, penilaian, dan penghargaannya
secara tersirat.
Ada kata yang berkonotasi positif (mengandung nilai rasa tinggi, halus, mulia, sopan,
terpelajar, dan sebagainya) serta ada yang berkonotasi negatif (mengandung nilai rasa
rendah, kasar, hina, tidak sopan, bodoh, dan sebagainya
Membedakan makna konotatif – denotatif
Kata pada umumnya mengacu pada pengertian dasar (denotasi) tertentu. Kata wanita, misalnya, memiliki makna dasar perempuan. Karena pandangan, tertentu, kata wanita diberi nuansa makna modern, rambut pendek, berani, kritis, dan lain-lain. Makna tambahan seperti itu disebut konotasi.

Kata-kata yang bermakna denotatif tepat digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Pembaca tidak akan menangkap informasi lain, kecuali yang tersurat. Sebaliknya, katakata yang bermakna konotatif biasanya digunakan dalam karya sastra, khususnya puisi. Hal itu terjadi karena penyair sering ”menitipkan” perasaan, penilaian, dan penghargaannya secara tersirat.

Ada kata yang berkonotasi positif (mengandung nilai rasa tinggi, halus, mulia, sopan, terpelajar, dan sebagainya) serta ada yang berkonotasi negatif (mengandung nilai rasa rendah, kasar, hina, tidak sopan, bodoh, dan sebagainya

Membedakan makna kias dan lugas
Makna kias dan makna lugas dibedakan atas langsung tidaknya acuan. Kata kursi, misalnya, mengacu pada mengacu pada tempat duduk yang berkaki dan bersandaran. Konsep itu merupakan makna lugas dari kata kepala dan bagian tubuh di atas leher makna lugas kata kursi. Dengan demikian, makna lugas itu wajar, apa adanya, dan tanpa mendapatkan konotasi arti tertentu.

Lain halnya dengan makna kias. Makna kias itu bukan makna sebenarnya, melainkan makna ibarat atau makna perbandingan. Surat resmi, surat dinas, tata tertib, peraturan, undang-undang, dan tulisan ilmiah, umumnya disusun dengan kata-kata yang bermakna lugas. Pada tulisan-tulisan tersebut, penulis tidak ingin tulisannya ditafsirkan lain.

Apa saja pokok-pokok sasaran yang dijadikan sasaran dalam meresensi buku ?

Pokok-Pokok Resensi
Teks tersebut merupakan resensi buku kumpulan cerpen. Asal kata resensi berasal dari bahasa Belanda resensie atau bahasa latin resenseo yang berarti ulasan atau uraian tentang buku, film, drama, teater, ataupun kaset. Ulasan resensi bersifat informatif mengenai pertimbangan mutu, baik, atau buruk sebuah buku. Resensi buku bertujuan memberikan rangsangan kepada pembaca agar membaca dan memiliki buku tertentu. Di samping itu, resensi buku dapat membantu penerbit atau pengarang untuk memperkenalkan buku yang baru diterbitkan. Agar mampu menulis resensi Anda harus mengetahui pokok-pokok isi resensi.

Pokok-pokok yang dijadikan sasaran dalam meresensi buku sebagai berikut.

1. Identitas Buku
Identitas buku meliputi judul, nama pengarang, nama penerbit, tempat dan tahun terbit, cetakan, serta tebal buku.

2. Pembuka Resensi
Kegiatan menulis resensi dapat dilakukan dengan mengutip paragraf dalam buku. Kutipan ini sebagai landasan berpikir. Penulis juga dapat mengemukakan tema buku secara singkat yang dilengkapi dengan deskripsi isi buku dan memperkenalkan kepengarangan (nama, ketenaran, hasil karya, ataupun proses kreatifnya).
 

3. Macam atau Jenis Buku
Penulis resensi menunjukkan jenis buku yang diulas kepada pembaca. Dengan kata lain, ia harus mengklasifikasi buku itu dalam kelas atau kelompok buku tertentu, misalnya fiksi dan nonfiksi.

4. Keunggulan Buku
Penulis resensi mengemukakan segi-segi menarik dari buku tersebut. Penulis dapat menguraikan hal-hal berikut

a. Organisasi Buku
Organisasi buku meliputi kerangka buku, hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lain. Jadi, ada kepaduan, kejelasan,dan memperlihatkan perkembangan yang logis.

b. Isi Buku
Isi buku menyangkut paparan dan rincian buku, serta adanya
kesimpulan umum. Buku dikatakan berkualitas jika organisasi dantema terangkai padu, baik, dan benar.

c. Bahasa
Penggunaan bahasa yang baik dapat dinilai dari segi struktur kalimat, hubungan antarkalimat, dan diksi atau pilihan kata. Selain itu, perlu pembedaan antara penggunaan bahasa untuk buku ilmiah dan buku fiksi sastra. Bahasa dalam buku ilmiah bersifat denotatif, satu penafsiran, sedangkan bahasa fiksi sastra bersifat konotatif untuk mengembangkan daya imajinasi

5. Kelemahan Buku
Resensi buku juga menguraikan kelemahan buku. Kelemahan ini meliputi cacat fisik (kelengkapan halaman, konsistensi penulisan, kualitas penjilidan) dan pembahasan yang tidak sistematis. Sisi kelemahan bisa disesuaikan dengan tema yang mengikat buku tersebut.

6. Nilai Buku
Apabila penulis resensi telah memberikan gambaran mengenai latar belakang buku dan mengemukakan pokok-pokok yang menjadi sasaran ulasan, penulis resensi telah menilai buku. Nilai sebuah buku akan lebih jelas jika dibandingkan dengan karya lain.

Sabtu, 05 Desember 2015

Jelaskan menyimak dan menentukan unsur-unsur bentuk puisi yang disampaikan secara langsung?

Menyimak dan Menentukan Unsur-Unsur Bentuk Puisi yang Disampaikan Secara Langsung
Sepertihalnya menyimak atau mendengarkan pembacaan suatu cerita, menikmati dan menghayati pembacaan puisi secara langsung, terasa lebih menyenangkan dibandingkan dengan membaca sendiri teks aslinya. Apalagi jika si pembaca puisi tersebut memiliki kemampuan membacakan puisi secara baik. Tentu selain kita dapat menikmati dan menghayati isi serta keindahan bentuk penulisan puisi itu sendiri, kita juga dapat menikmati kepiawaian si pembaca puisi dalam membacakannya. Ada kalanya saat kita membaca suatu teks puisi, kita tidak tertarik sama sekali dengan kata-kata serta isi puisi yang kita baca. Akan tetapi pada saat puisi tersebut dibacakan oleh seseorang dengan lafal, intonasi, serta ekspresi yang tepat, kita menjadi tertarik oleh katakata serta isi puisi yang dibacakan tersebut. Secara umum menarik dan tidaknya suatu puisi, dapat ditentukan oleh beberapa hal, di antaranya sebagai beriku
  1.  Keunikan tema atau pokok permasalahan yang disampaikan.
  2. Ketepatan dalam menggunakan diksi atau pilihan katanya.
  3. Cara mengolah atau menggunakan ungkapan, majas/gaya bahasa, serta berbagai simbol atau perlambang.
  4. Ketepatan atau keserasian dalam mengolah rima serta kesyahduan iramanya.
Contoh puisi
Kembalikan Indonesia Padaku Kepada Kang Ilen
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa, Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya,

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 watt,
Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam lantaran berat bebannya kemudian angsaangsa berenang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 watt, sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenangrenang sambil main pingpong di atas Pulau Jawa yangtenggelam dan membawa seratus juta bola lampu 15 watt ke dasar lautan

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Memperkenalkan Diri dan Orang Lain dalam Forum Resmi dengan Intonasi dan Jeda Kalimat yang Tepat

Memperkenalkan Diri dan Orang Lain dalam Forum Resmi dengan Intonasi dan Jeda Kalimat yang Tepat

Pada pertemuan yang lalu kamu telah berlatih memperkenalkan diri atau orang lain dalam suatu forum resmi dengan menyusun teks terlebih dahulu. Dalam kegiatan semacam itu, kendala yang cukup sulit adalah bagaimana kita dapat mengucapkan kalimat dengan intonasi yang tepat, hingga apa yang kita ucapkan menjadi suatu pembicaraan yang komunikatif.


Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kita  dapat berlatih dengan memberi tanda jeda pembantu (/) pada teks yang akan kamu ucapkan atau kamu bicarakan. Pemberian tanda jeda pembantu itu, dimaksudkan untuk membantu kamu dalam pengucapan kalimat dan intonasi kamu tepat dan komunikatif. Pemberian tanda jeda pembantu harus mempertimbangkan kelompok kata yang merupakan kesatuan makna. Jika kamu salah dalam memberikan jeda pada kalimat, makakalimat yang kamu ucapkan pun menjadi rancu

Perhatikan contoh berikut!
Baiklah, / sebelum acara diskusi pada hari ini / kita mulai, / saya perkenalkan terlebih dahulu / dua orang panelis yang sengaja kita datangkan, / dan sekarang telah hadir / di depan para peserta diskusi.

Dalam praktik pengucapan kata-kata, tanda jeda pembantu hanya sekedar memberi ruang kesenyapan (berhenti) sesaat untuk memperjelas pengertian suatu kelompok kata. Oleh sebab itu lamanya kesenyapan jeda pembantu sebaiknya jangan melebihi lamanya kesenyapan tanda jeda koma.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan Asertivitas dan Ciri orang yang memiliki kemampuan asertif?

Asertivitas
Asertivitas merupakan kemampuan seseorang untuk mengemukakan pendapat, saran, dan keinginannya secara langsung, jujur, dan terbuka pada orang lain. Orang yang asertif adalah orang yang memiliki keberanian untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya, mempertahankan hak-hak pribadinya, serta menolak permintaanpermintaan yang tidak beralasan (Rathus, 1982). Asertivitas bukan hanya berarti seseorang dapat bebas berbuat sesuatu yang diinginkannya, tetapi di dalam asertif terkandung berbagai pertimbangan mengenai baik-buruknya suatu sikap dan perilaku yang akan muncul. Ciri orang yang memiliki kemampuan asertif, antara lain:
  1. Bebas berpendapat, baik melalui kata-kata maupun tindakan
  2.  Dapat berkomunikasi secara langsung dan terbuka.
  3. Mampu memulai, melanjutkan, dan mengakhiri pembicaraan secara baik.
  4. Mampu menolak dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat orang lain, atau menolak segala sesuatu yang tidak beralasan dan cenderung bersifat negatif.
  5. Mampu mengajukan permintaan dan bantuan kepada orang lain ketika membutuhkan.
  6. Mampu menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan
  7.  Memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan.
  8. Menerima keterbatasan yang ada dalam dirinya dengan tetap berusaha untuk mencapai keinginannya sebaik mungkin, sehingga baik berhasil maupun tidak berhasil ia akan tetap memiliki harga diri dan kepercayaan diri (Fensterheim dan Baer, 1980: Lazuarus, 1991)
Usia remaja merupakan masa di mana seseorang mulai banyak berinteraksi secara intensif dengan lingkungan di luar keluarganya. Pada usia remaja semacam itu, sikap dan perilaku asertif akan sangat bermanfaat terutama ketika bergaul dengan orang lain, baik yang sama usia dan status sosialnya maupun yang berbeda. Manfaat yang bisa dipetik oleh seorang remaja yang memiliki kemampuan asertif antara lain:

Pertama, sikap dan perilaku yang asertif akan memudahkan remaja dalam bersosialisasi, menjalin hubungan interpersonal secara efektif, untuk berinteraksi dengan siapapun. Kedua, dengan kemampuan mengungkapkan apa yang dirasakan dan diinginkan secara langsung, dapat menghindari munculnya ketegangan, perasaan tidak nyaman akibat menahan dan menyimpan sesuatu yang ingin diutarakannya.

Ketiga, asertivitas akan membuat remaja mampu mencari solusi dari berbagai kesulitan yang dihadapinya, sehingga permasalahan tidak menjadi beban yang berlarut-larut. Keempat, asertivitas akan membantu remaja untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya, memperluas wawasan tentang lingkungan, dan tidak berhenti pada sesuatu yang tidak diketahuinya. Kelima, asertif terhadap orang lain yang bersikap atau berperilaku yang kurang tepat, bisa membantu remaja bersangkutan untuk lebih memahami kekurangannya sendiri dan bersedia memperbaiki kekurangannya itu.

Selasa, 01 Desember 2015

Jelaskan pengertian lafal dan jeda serta berikan contohnya?

Lafal yaitu cara mengucapkan bunyi bahasa.
Pelafalan sebuah bunyi bahasa akan menentukan makna. Melafalkan kata yang tidak tepat dapat menyebabkan salah pengertian. Pelafalan kata tertentu yang salah akan menyebabkan kata tersebut menjadi kata tidak baku atau tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Perhatikan contoh kalimat-kalimat berikut.
a. Walaupun kamu berusaha meyakinkan, saya tetap merasa sangsi.
b. Kapal Livina tenggelam karena sarat penumpang.
c. Pekerjaan kalian harus ditulis dengan menggunakan kertas folio.

Apabila  salah melafalkan kata-kata bercetak miring dalam kalimat tersebut, akan menjadikan kata tersebut salah arti.
Bandingkan kalimat-kalimat tersebut dengan kalimat-kalimat berikut.
a. Dia mendapat sanksi dari wali kelas karena tidak disiplin.
b. Semua peserta telah mengikuti syarat yang telah ditetapkan.
c. Penyakit polio harus dicegah sejak dini.

Selain itu, jika kita tidak tepat dalam melafalkan dan menuliskan kata-kata tersebut, akan berubah menjadi kata tidak baku. Perhatikan contoh kalimat berikut.
a. Ia melamar menjadi sekertaris di perusahaan itu.
b. Kakakku saat ini sedang giat mempelajari sastera.
c. Hal ini Pak Roni mendapat jadual ronda

Jeda mengandung makna perhentian sebentar dalam ujaran. Pada saat berbicara atau membaca, arus ujaran itu terhenti-henti oleh jeda. Jeda terbagi menjadi dua, yakni jeda sesaat yang me nunjukkan bahwa tutur masih akan dilanjutkan dan jeda panjang. Jeda sesaat dinyatakan dengan (,) atau titik koma (;), sedangkan jeda panjang dinyatakan dengan tanda seru (!), tanda tanya (?) atau tanda titik (.).

Intonasi bermakna lagu kalimat. Intonasi merupakan ga bungan antara tekanan, nada, dan waktu yang menyertai suatu tutur dari awal sampai jeda akhir. Intonasi merupakan perpaduan tekanan nada, jeda, dan lafal. Tekanan bermakna memberi kekuatan yang lebih besar dalam artikulasi pada salah satu bagian ujaran sehingga lebih menonjol dari bagian ujaran lain. Tekanan berkenaan dengan tinggi-rendah, keras-lembut, panjang-pendek, dan kadang-kadang berhenti sebentar atau agak lama sebuah ujaran. Terdapat dua jenis tekanan, yaitu tekanan aksen dan tekanan kalimat. Tekanan aksen digunakan untuk melafalkan kata yang penting dengan cara diucapkan. Sementara tekanan kalimat digunakan untuk menyatakan kata penting dalam kalimat.

Apa saja eknik atau langkah-langkah dalam memparafrasakan sebuah karangan atau paragraf?

Membuat Parafrasa dari Teks Tertulis
Ide pokok dalam sebuah wacana tersebar dalam paragraf. Setiap paragraf mengan dung gagasan utama dan gagasan penjelas. Ide pokok sebuah wacana merupakan kumpulan beberapa gagasan utama. Dengan kata lain, apabila akan mencari ide pokok dalam wacana, pada dasarnya kita sedang mencari gagasan utama.

Meringkas pun bisa diartikan menuliskan kembali suatu bacaan bacaan ke dalam bentuk yang lebih singkat atau pendek. Hal ini sebab pada dasarnya ringkasan berisi kumpulan beberapa gagasan utama. Melalui ringkasan, kita dapat mengingat inti wacana lebih lama. Selain itu, jika suatu saat memerlukan informasi dari wacana tersebut, kita dapat memanfaatkan ringkasan yang telah kita tulis. Di samping itu, untuk mengungkapkan isi wacana yang dibaca dapat dilakukan dengan membuat parafrasa. Parafrasa bermakna penguraian kembali suatu wacana atau karangan dalam bentuk susunan kata-kata yang lain dengan maksud untuk dapat mempelajari makna yang tersembunyi. Istilah parafrasa juga bermakna mengubah bentuk karangan dari puisi menjadi prosa

Teknik atau langkah-langkah dalam memparafrasakan sebuah karangan atau paragraf adalah sebagai berikut
  1. Bacalah bacaan atau wacana tersebut dengan cermat. Hal ini dilakukan supaya Anda memahami makna umum atau isi wacana tersebut. Anda dapat pula memanfaatkan teknik membaca memindai.
  2. Teliti dan pahamilah hubungan kata, kelompok kata yang satu dengan kata dan kelompok kata yang lain dan kalimat yang satu dan kalimat yang lain dalam wacana tersebut.
  3.  Catatlah kata atau ungkapan yang kurang jelas. Kemudian, carilah keterangannya dalam kamus atau ensiklopedia. Makna yang diterangkan dalam kamus pun perlu dipertimbangkan dan dipadankan dengan makna yang akan disalin.
  4. Perhatikanlah nada dan suasana penuturan asli. Bentuk bahasa dan kalimat boleh diubah semuanya, tetapi nada dan suasana penuturan hendaknya jangan diubah.Setelah selesai memparafrasakan, bacalah kembali tulisan Anda. Lalu, sesuaikanlah dengan teliti. Jika terdapat halhal yang dirasa kurang sesuai, segera ganti dengan yang lebih tepat.

Berikan contoh kalimat faktual dan fakta?

Pada umumnya kalimat faktual atau fakta, biasanya menggunakan kata atau kelompok kata berdasarkan penelitian atau hasil penelitian, berdasarkan sensus, hasil dari pengamatan, berdasarkan data, berdasarkan kenyataan, berdasarkan laporan, survei membuktikan, hasil investigasi, dan lain-lain.
Contoh:
  1.  Berdasarkan penelitian, cara berpakaian seseorang dapat menentukan langkah keberhasilan dalam tes wawancara.
  2.  Menurut laporan yang kami terima dari lokasi bencana, para korban gempa bumi sampai saat ini kekurangan makanan dan obat-obatan.

Namun, tidak selamanya kalimat faktual atau fakta menggunakan kelompok kata tersebut. Untuk menentukan kalimat faktual yang tidak menggunakan kelompok kata tersebut, Anda dapat menganalisisnya berdasarkan realitas dari pernyataan isi kalimat. Jika pernyataan itu benar adanya, sudah bisa dipastikan bahwa kalimat itu termasuk kalimat faktual atau fakta.
Contoh:
a. Tidak dapat disangkal, kenaikan harga sembako menambah penderitaan masyarakat
    kurang mampu.
b. Semangat belajar yang tinggi akan mendorong siswa meraih prestasi yang gemilang.
c. Keberadaan handphone (HP), semakin hari terasa kian merebak saja di masyarakat.

Perhatikan pula contoh kalimat berikut.
a. Harga sayur-sayuran merosot tajam pada musim hujan.
b. Apabila pekarangan sebuah rumah rapi, di dalam rumahnya pasti rapi juga.
Pernyataan dari kedua kalimat tersebut mengandung kebenaran yang tidak mutlak, tidak benar, atau tidak tepat. Dengan demikian, kalimat tersebut merupakan pendapat. Salah satu cara menentukan atau mencari kalimat pendapat adalah dengan menganalisisnya secara saksama berdasarkan logika atau kenyataan. Secara redaksi kalimat, untuk menentukan atau mencari kalimat pendapat, dapat ditentukan dengan menggunakan kelompok kata menurut pendapat...., diperkirakan, kira-kira, lebih kurang, prediksi, asumsi, dan sekitar.

Contoh:
a. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, diperkirakan harga- harga barang melonjak tajam.
b. Sekitar lima ribu hektar hutan yang terbakar tidak bisa ditanami.
c. Badan Metereologi dan Geofisika memprediksi bahwa ombak di Selat Sunda kira-kira dua meter.

Jelaskan membedakan penggunaan pola tekanan kata dan kalimat?

Membedakan penggunaan pola tekanan kata dan kalimat
Dalam berkomunikasi, jalinan kata dan kalimat perlu dikemas dalam harmonisasi yang utuh. Artinya, dalam menyampaikan informasi kita harus menggunakan pola tekanan kata dan kalimat. Hal ini dilakukan agar orang lain memahami isi informasi yang kita ungkapkan.

Mengucapkan kalimat merupakan wujud kegiatan berbicara. Pembicara yang satu dengan pembicara yang lain, dalam hal-hal tertentu kadang-kadang berbeda, meskipun vokal, konsonan, kata atau kalimat yang diucapkannya sama. Ketidaktepatan pengucapan bunyi bahasa dapat meng - alihkan mengganggu perhatian pendengar, bahkan mungkin dapat menimbulkan salah pentafsiran. Misalnya, dalam pengucapan kata gerakkan menjadi geraan, menyatakan menjadi menyataken, menaikkan menjadi menaian.

Contoh lain, kita sering mendengar pembicara tidak sesuai atau salah ucap dalam menyampaikan informasi. Pengucpan konsonan s menjadi c pada kata sasak diucapkan cacak. Kata suka diucapkan cuka. Selain itu, pengucapan konsonan r menjadi l pada kata rusuh diucapkan lusuh, kata rima diucapkan lima. Penyebab terjadinya kesalahan pengucapan konsonan tertentu, seperti contoh ter sebut disebabkan faktor intern pembicara, mungkin karena bentuk atau ukuran alat ucapnya tidak normal.

Contoh lain, kita sering mendengar pembicara tidak sesuai atau salah ucap dalam menyampaikan informasi. Pengucpan konsonan s menjadi c pada kata sasak diucapkan cacak. Kata suka diucapkan cuka. Selain itu, pengucapan konsonan r menjadi l pada kata rusuh diucapkan lusuh, kata rima diucapkan lima. Penyebab terjadinya kesalahan pengucapan konsonan tertentu, seperti contoh ter sebut disebabkan faktor intern pembicara, mungkin karena bentuk atau ukuran alat ucapnya tidak normal.

Kita juga sering mendengar pengucapan kata-kata berikut.
a. memfoto diucapkan atau ditulis memoto
b. memfitnah diucapkan atau ditulis memitnah
c. mencintai diucapkan atau ditulis menyintai
d. membawakan diucapkan atau ditulis membawaan
e. tujukan diucapkan atau ditulis tujuken

Ketidaktepatan pengucapan fonem (vokal dan konsonan) seperti pada kata-kata tersebut tentu akan mengganggu pendengar ketika menyimak. Oleh karena itu, pengucapan vokal, konsonan, dan kata harus jelas. Tekanan kata atau kalimat akan berkenaan juga dengan jenis kalimat yang disampaikan. Oleh karena itu, sekarang kita akan belajar mengenali jenis-jenis kalimat.

Bagaiamana teknik Membaca memindai (scanning) dan Membaca layap (skimming)?

Membaca memindai (scanning)
Membaca memindai adalah teknik membaca cepat untuk mendapatkan informasi tanpa membaca yang lain dan langsung menuju fakta dan informasi. Teknik membaca memindai bisanya dilakukan untuk mencari fakta khusus, seperti mencari nomor telepon, mencari arti kata dalam kamus, melihat acara siaran televisi, dan melihat daftar penjelasan. Membaca memindai biasanya juga digunakan untuk mengumpulkan bahan-bahan mengenai topik tertentu. Pengumpulan topik tersebut tidak perlu dilakukan dengan cara membaca secara keseluruh an, tetapi cukup dengan membaca daftar isi. Misalnya saja, Anda akan mencari kata di dalam kamus dengan teknik scanning. Nah, jika kita ingin melihat kata dalam kamus, gunakanlah petunjuk berikut
  1. Perhatikan ejaan kata itu dengan saksama.
  2.  Perhatikan cara pengucapannya, panjang pendeknya, dan aksennya (tekanannya)
  3. . Jangan terlalu cepat memilih suatu pengertian. Bandingkan pengertian yang ada dan cocokan dengan konteks yang Anda baca. Pengertian itu biasanya dirinci dengan a, b, c, dst
  4. . Perhatikan contoh kalimat. Hal ini akan memperjelas pengertian yang kita cari.
  5. . Agar segera menemukan kata yang dicari, perhatikan petunjuk halaman yang ada di setiap halaman.
Membaca layap (skimming)
Membaca layap (skimming) adalah teknik membaca cepat yang bertujuan untuk mengambil intisari isi bacaan. Skimming bacaan berarti mencari hal-hal yang penting dari bacaan. Membaca skimming dilakukan untuk memperoleh kesan atau gambaran umum dari suatu bacaan.

Banyak yang mengartikan skimming sebagai kegiatan sekedar menyapu halaman, tetapi sebenarnya skimming merupakan keterampilan membaca yang diatur untuk mendapatkan hasil yang efisien dan untuk berbagi tujuan. Teknik membaca ini dapat dimanfaatkan untuk mengetahui topik bacaan, mengetahui pendapat orang lain (opini), mendapatkan bagian penting yang diperlukannya tanpa membaca keseluruhan isi buku, mengetahui kerangka penulisan, dan mengingatkan apa yang telah dibaca

Iklan 300x250

Recent post

Popular Posts