Selasa, 29 September 2015

Jelaskan Lafal atau Pengucapan?

Lafal atau Pengucapan
Selain berpedoman pada Ejaan Yang Disempurnakan, khususnya cara pelafalan huruf yang benar, setiap penutur bahasa Indonesia hendaknya mengikuti aturan yang sudah dibakukan. Kalian bisa menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk mencari tahu bagaimana sebuah kata dilafalkan. Dalam membaca singkatan kata (termasuk singkatan kata asing selain akronim) yang dibaca huruf demi huruf, pelafalannya harus sesuai dengan pelafalan huruf bahasa Indonesia.



Pelafalan kata dengan artikulasi yang tidak tepat akan menghasilkan lafal kata yang tidak baku. Bahkan, pada tahap tertentu salah pelafalan dapat menimbulkan salah arti. Berikut ini contohnya.
1. Vokal /a/
Vokal /a/ dilafalkan agak panjang apabila berada pada suku kata terbuka. Misalnya: su-ka, ma-ta, denda, tang-ga.
Pelafalan vokal /a/ lain ada yang agak singkat apabila berada pada suku kata tertutup. Misalnya; de-pan, be-sar, ke-lam.


2. Vokal /u/
Vokal /u/ mempunyai dua alofon, yaitu [u] pada suku kata terbuka dan [ ] pada suku kata tertutup yang terakhir pada /m/, /n/, atau /n/ dan suku itu mendapatkan aksen yang berat. Perhatikan contoh berikut!

Suku terbuka:
u-pah
tu-kang
ban-tu
Suku tertutup:
bung-su
rum-put
Jika /u/ terdapat pada suku kata tutup dan suku itu tidak mendapat aksen yang keras, vokal /u/ dilafalkan [ ]. Perhatikan contoh berikut!
wa-rung
rum-pun
lang-sung
Jika aksen kata berpindah kepadanya, maka /
u/ yang semula dilafalkan sebagai [ ] akan menjadi
[u].

Contoh:
[ampun] [pengampunan]
[kumpul] [kumpulan]
[simpul] [kesimpulan]
Catatan:
Vokal /u/ dengan lafal [o] pada kata seperti warung, masuk, dan kebun merupakan penyimpangan kaidah tata bunyi bahasa Indonesia.

3. Konsonan /b/
Konsonan /b/ dilafalkan jelas apabila berada pada posisi awal suku kata. Misalnya: ba-las, bi-na, benar, bo-la. Konsonan /b/ yang lain ada yang dilafalkan seperti bunyi /p/ apabila pada posisi akhir suku kata. Misalnya: Sab-tu dilafalkan Sap-tu. Dalam tuturan ada sejumlah fonem yang dilafalkan tidak sesuai dengan lafal yang tepat sehingga lafal tersebut menjadi tidak baku. Perhatikan contoh kata yang sering dilafalkan salah/tidak baku pada Tabel A!
Untuk beberapa kata, sebelum dilafalkan terlebih dahulu harus diperhatikan konteks di mana kata itu digunakan. Apabila kita salah melafalkan kata-kata yang terdapat dalam Tabel B, maka dapat menjadi salah arti.

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pelafalan kata merupakan hal yang sangat penting dalam pengucapan bunyi bahasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Iklan 300x250

Recent post

Popular Posts