Jumat, 18 September 2015

Bagaimana Membaca dan Mengidentifikasi Sastra Melayu Klasik?

Membaca dan Mengidentifikasi Sastra Melayu Klasik
Sastra Melayu klasik merupakan salah satu ragam karya sastra lama yang menggunakan bahasa Melayu. Salah satu bentuknya adalah hikayat. Di dalam hikayat biasanya dikisahkan kebesaran dan kepahlawanan orang-orang ternama, para raja atau para orang suci di sekitar istana dengan segala kesaktian, keanehan, dan mukjizat tokoh utamanya. Kadang hikayat mirip dengan sejarah; bahkan ada hikayat yang berbentuk riwayat hidup. Hal itu sesuai dengan pengertian harfiah kata hikayat itu sendiri. Kata hikayat berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘cerita’, ‘kisah’, atau ‘dongeng.’ Kata itu berasal dari kata kerja haka yang berarti ‘menceritakan’ atau  ‘mengatakan sesuatu kepada orang lain.’ Dalam bahasa Melayu kata hikayat berarti (i) cerita, cerita kuno, cerita lama, dalam bentuk prosa, atau (ii) riwayat, sejarah. Di samping itu, hikayat juga berarti ‘kenangkenangan’, sebagai lawan dari riwayat atau tarikh.

Berdasarkan penjelasan , dapat disimpulkan bahwa hikayat memiliki beberapa ciri, yaitu (i) bersifat lama, (ii) ditulis dalam bahasa Melayu, (iii) sebagian besar kandungan ceritanya berkisar dalam kehidupan istana, (iv) unsur rekaan merupakan ciri yang menonjol, dan (v) pada lazimnya hikayat mencakup bentuk prosa yang panjang. Berdasarkan isinya, hikayat paling tidak dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (a) sastra hikayat sebagai sastra historiografi tradisional yang berisi catatan dan riwayat mengenai suatu kerajaan, seperti Hikayat Patani, Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Marong Mahawangsa, (b) sastra hikayat yang berisi cerita rekaan, seperti Hikayat Si Miskin, Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Awang Sulung Merah Muda, dan (c) sastra hikayat yang berisi riwayat kehidupan atau biografi seseorang, seperti Hikayat Abdullah, Hikayat Sultan Ibrahim ibnu Adham, Hikayat Musa Munajat


Ragam isinya yang luas itu mengundang asumsi bahwa isi hikayat itu penting dalam kehidupan masyarakat Melayu dan dalam kebudayaannya. Tema dan masalah yang ada di dalam hikayat padaumumnya menyangkut soal kepercayaan, agama, pandangan hidup,adat-istiadat, dan sosial. Hikayat jenis cerita rekaan pada umumnyabertema keberanian yang dimiliki oleh para pahlawan. Selain itu, hikayat jenis rekaan juga bertema percintaan. Hikayat jenis sejarah dan biografi banyak yang bertema pendidikan, khususnya pendidikan moral.

Motif yang terdapat di dalam hikayat bermacam-macam, antara lain motif kelahiran, perkawinan, iman, impian, dan ahli nujum. Di dalam pelukisan tokoh hikayat, biasanya dipergunakan cara analitik, sedangkan watak tokoh pada umumnya adalah watak datar (flat character). Pencerita biasanya menempatkan diri sebagai orang ketiga, dengan menggunakan teknik diaan. Menempatkan pencerita sebagaiorang pertama hanya terdapat di dalam Hikayat Abdullah. Secara umum, pengidentifikasian hikayat hampir sama dengan pengidentifikasian prosa. Unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang ada dalam prosa juga muncul dalam hikayat. Satu ciri khas dalam hikayat adalah kebahasan hikayat didominasi bahasa Melayu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Iklan 300x250

Recent post

Popular Posts